Wednesday, July 17, 2013

Fanfict Low my imagination chapter 2

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1g1KVGlnm3btaeYbIxNUsBn946yx2BM9NfVyW47RAIxVNZQS7EoUOMdQW8y6V5VNep0VLNI0qU-V2Ru6Lxk9MSCwyMm15-_LnMOmCbmZF0RNqu0Oec3iBNdsAS4L5WUnQ4aj6D1tJVv0S/s1600/Matahari+ku.jpg 
Judul : Matahariku
Chapter 2 : Terpukau
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Rate : T
Genre : hurt and romance.
Pairing : Naruhina

Hari kini berganti pagi, matahari bersinar terang menerangi hati-hati yang kelam di rumah sakit Konoha. Hari yang baru bagi mereka yang tegar menghadapi matahari pagi dengan semangat api mereka, hari yang cerah bagi mereka yang tak pernah menyerah pada rasa sakit dan penyakit yang menggerogoti hidup mereka.

Hari ini adalah hari baru bagi gadis lavender, Hinata. Hari ini ada yang berbeda darinya, hari ini dia lebih bersemangat menantang hari. Dia tak akan membiarkan hari mengambil kisahnya begitu saja, dia akan mengakhiri setiap hari yang menghadangnya dengan senyuman. Itulah, sekilas yang Hinata dapat dari seseorang yang baru dia kenal semalam. Seseorang yang baru pertama kali bertemu namun mampu membuat dia terpukau.

Naruto, Uzumaki Naruto. Nama yang indah, seindah senyumannya, yeah itu sih menurut Hinata. Nama yang mengandung banyak kekuatan, bersama nama itu dia memberikan harapan di setiap kata-katanya. Naruto, sepertinya dia agak berisik.
Tapi tak apalah, itu yang Hinata sukai dari dirinya. Dirinya yang hanya sekali bertemu telah membuatnya terpukau.

Hinata kesem-sem sendiri, tersipu, merah merona wajahnya membayangkan apa yang terjadi semalam di atap. Berniat ingin mengakhiri hidup, eh malah dia bertemu dengan seseorang yang membuat dia lebih percaya diri.

Kyaaaaaa! Naruto-kun, apa yang kau lakukan pada Hinata-sama sampai dia seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri, jangan sampai para perawat mengira Hinata salah kamar.
“Sepertinya kamu sedang happy, Hinata” kata suster berambut pink sebahu melihat pasiennya senyum-senyum sendiri tanpa sebab.

Hinata membalasnya dengan senyum malu-malu.

“Aku harap, aku tidak salah memeriksa pasien” katanya pelan, menyadari keadaan Hinata.

“Sakura-chan, jangan berpikiran aneh-aneh. Aku masih normal, kok” akhirnya Hinata angkat bicara.

“Normal? Lihat wajahmu, Hinata. Mungkin saat ini tensi darahmu naik” balas Sakura tak habis mengerti, Hinata malah membalasnya dengan sebuah senyuman lagi membuat Sakura makin frutasi dengan pasiennya satu ini.

“Apa kau pernah mengalami yang namanya terpukau?” Tanya Hinata seraya memainkan kedua telunjuknya karena malu.

“Oh, ini rupanya penyebab Hinata agak aneh?” inner Sakura tertawa berat.

“Apa?!” Sakura balik kaget begitu menyadari maksud pertanyaan Hinata, seketika dia pundung di bawah tempat tidur Hinata sambik mengorek-ngorek ubin.

“Apa kamu baik-baik saja, Sakura-chan?” Tanya Hinata khawatir melihat reaksi Sakura. “Apa pertanyaanku salah? Atau Sakura-chan belum pernah terpukau pada seseorang?” serobot Hinata tanpa mengerti keadaan Sakura.

“Hi~~~na~~~ta~~~, bisa berhenti bertanya seperti itu? Kau bukannya membantu ku keluar dari kelaraan ini, kau malah menambah luka di hatiku!” balas Sakura horror.

“Sa-Sakura-chan, go-gomen nasai~~~” kata Hinata ketakutan melihat aura membunuh Sakura.

Eh, apa ini artinya Hinata kita sedang dilanda kasmaran?

…………………………………………………..

Di sebuah Rumah mewah.

Naruto mengeliat diatas tempat tidurnya, baju tidurnya terbuka memperlihatkan tattoo pusaran dipusarnya. Matanya mengerjap berkali-kali menetralkan penglihatannya, tangannya mengelap iler yang mengering di pipinya. Tempat tidurnya tak berbentuk lagi, bantalnya terhempas beberapa meter dari tempatnya semula.

“Naruto, bangun” samar-samar Naruto melihat seorang perempuan berambut hitam sebahu berdiri di sampingnya.

“Eh, Shizune-san. Apa kau sadar, ini masih tengah malam” kata Naruto diantara sadar dan tak sadar dengan keadaannya.

Perempatan terbentuk di dahi Shizune, dia mengepal-negpalkan tangannya. Napasnya memburu, matanya mengeluarkan kobaran api.

“NARUTOOOO~~~~!” teriaknya tepat di telinga Naruto akibatnya naruto tersentak bangun dan jatuh dari tempat tidurnya. “Sekarang sudah tengah hari!”

“Ittaiiii~~~, Shizune-san! Apa tak bisa pelan-pelan membangunkan aku?!” keluh Naruto kesal, tak terima di bangunkan dengan cara seperti itu.

“Kalau saja kau bukan karena Tsunade sama, sudah ku mutalasi dirimu dari awal!” kata Shizune seraya memasang tawa evil.

“Cepat Tsunade-sama menunggumu!” lanjut Shizune seraya menyeret Naruto dengan paksa.

“Ittaiii~~~.pelan-pelan, Shizune-san” rengek Naruto.

……………………… …………………

Apa yang salah dengan hari ini? kenapawajah Naruto cemberut seperti itu? Apa ada yng salah dengannya? Ah, shizune sepertinya tengah mengelus-elus dadanya mencoba sabar. Yah, menangani anak keras kepala seperti Naruto memang butuh kesabaran.

Mobil yang Shizuni kendarai akhirnya berhenti di sebuah rumah sakit mewah, Naruto melangkah keluar dari mobil dengan perasaan yang dongkol.Dia berlajan membuntuti Shizune, mengikuti kemana Shizune pergi.

Akhirnya kegiatan membuntuti Shizune berakhir juga.

“Nani?Jika ingin bertemu dengan ku kenapa harus ke rumah sakit??” tanya Naruto tak habis pikir dengan keinginan neneknya.

“Tsunade sama ingin menemuimu karena ada hal yang harus di bicarakan di sini” jawab Shizune tenang.“Masuklah” lanjutnya seraya membuka pintu dan mendorong Naruto masuk ke dalam ruangan dokter Tsunade.

“KYAAA! AKU BISASENDIRI!” teriak Naruto saat tubuhnya melayang masuk ke dalam ruangan Tsunade.

Blam!

“Heh, bertemu neneknya saja sulit minta ampun” kata Shizune tertawa lucu mengingat Naruto yang tidak suka bertemu dengan neneknya.

……………………………………………….

Satu jam kemudian, Naruto keluar dari ruangan yang bertuliskan nama dokter Tsunade. Wajahnya terlihat kusut, bajunya sudah miring ke kiri memperlihatkan tulang iganya yang menonjol keluar saking kurusnya. Naruto mengangkat lengannya dan mencium ketiaknya, kemudia dia segera menjauhkan wajahnya karena aroma tak sedap.

“Menyebalkan! Pagi-pagi sudah membuatku keringatan dan berbicara yang tidak-tidak” gumam Naruto penuh kekesalan seraya melangkah meninggalkan ruangan dokter Tsunade.

Baru beberapa langka, kakinya tertahan sebeblum melewati belokan dia mendengar suara seorang gadis dari balik belokan di depannya menggema.

“Aku senang, akhirnya kau kembali ceria seperti dulu, Hinata”

Naruto mundur beberapa langkah, dia terkejut mendengar nama yang baru saja di sebutkan.

“Hinata? Apa dia gadis yang ku temui di atap semalam?” batin Naruto mendengar nama Hinata, dia mencoba mengintip dari tempatnya untuk memastikan apa itu adalah Hinata yang dia kenal.

Mata Naruto membulat, keningnya berkerut begitu dia melihat seorang perawat berambut pink sebahu berjalan mendekati tempat dia berdiri sambil mendorong kursi roda yang diduduki gadis berambut indigo dan bermata amethyst.

“Itu, itu Hinata. Aku tidak iingin dia melihatku berada disini” gumam Naruto panic dengan sendirinya, entah apa yang membuat dia tak ingin di lihat Hinata. Hum, mencurigakan!

“Kau tak sendiri di dunia ini, masih ada aku yang akan menyayangimu. Aku yang akan membuatmu hidup berarti” Naruto teringat akanakan kata-katanya semalam pada Hinata.

“Hah, kenapa aku malah mengatakan hal yang konyol seperti itu!” lanjutnya seraya mengacak rambutnya.

“Arigatou, Sakura-chan. Aku merasa lebih baik dari hari-hari sebelumnya” suara Hinata semakin medekat.

Sementara Naruto mulai kelabakan mencari tempat bersembunyi, tidak mungkin dia kembali ke ruangan neneknya. Selain ruangan neneknya hanya ada toilet khusus wanita, apa lagi itu, dia tidak mungkin masuk ke sana.

Lalu kemana?Hanya ada dua pintu disini, satu pintu ke ruangan neneknya dan satu pintu ke toilet wanita, pintu mana yang harus dia pilih?

Tap, tap, tap.

Telinga Naruto menegang saat mendengar suara derap langkah mendekatinya, sangat dekat hingga hembusan napasnya bisa dia dengar dengan jelas.

“Yo, Naruto. Kamu kenapa seperti cacing kepanasan?” Naruto terbelak kegirangan melihat Shino.

“Shino, apa mereka sudah dekat?”Tanya Naruto dengan panik seraya melihat ke arah Shino datang.

“Perawat Sakura yang kau maksud?”Tanya Shino dan di balas anggukan cepat dari Naruto.

“Mere____” belum sempat Shino melanjutkan kata-katanya dia tiba-tiba tercekat karena dengan kecepatan kilat Naruto mendorong Shino ke dinding dan memeluk Shino begitu dia melihat ujung kursi roda di ujung tikungan.

Bruk!

Deburan ombak pecah di batu karang dan kilat menyambar adalah kilasan background saat Shino terkejut dengan reaksi Naruto yang tiba-tiba saja memeluknya dan menjepinya ke dinding.

Tepat saat itu Sakura dan Hinata lewat didepan mereka, Sakura dan Hinata ternganga, mereka sempat ingin pingsan saat melihat adegan di depan mata mereka. Adengan Yaoi.

“Tiiiiddddaaaaaakkkkk!!!” pekik Shino didalam hati tanpa mampu berbuat apa-apa dalam pelukan Naruto begitu dia melihat tatapan jijik dari dua gadis yang lewat didepannya, rasanya dia ingin mengganti tubuhnya dengan serangga-serangganya agar dia bisa melarikan diri dari tatapan tak menyenangkan itu.

“Maaf, mengganggu” kata Sakura canggung melewati Shino dan Naruto seraya mendorong kursi roda Hinata dengan cepat agar segera menghilang dari area terkutuk itu.

“NA~RU~TOOO~~~, setelah ini kau akan menjadi santapan para seranggaku!” inner Shino penuh dendam kusumat. Sementara Naruto berjuang menahan malu karena disangka pasangan uke dan seme oleh Hinata selain itu dia juga tengah berjuang menahan rasa jijik pada ulat yang berlalu lalang di belakang leher Shino.

“Apa mereka sudah masuk kedalam ruangan nenek Tsunade, Shino?”Tanya Naruto masih dalam memeluk Shino.

“NA~~RU~~TOOO~~~” geram Shino mematikan tanpa peduli dengan pertanyaan Naruto.

“Kyaaaaaa!!! Shino! Tubuhmu di penuhi ulat! Apa kau baik-baik saja?”Naruto melompat kaget melepaskan pelukannya dari Shino begitu melihat puluhan ulat keluar dari dalam baju Shino.

“Aku sengaja mengeluarkan mereka untuk menyantapmu, Naruto!” kata Shino dengan seringai jahat. “Kau telah menjatuhkan reputasi yang susah payah author bangun pada diriku dengan adegan memalukan seperti tadi. Akan ku taruh dimana mukaku jika para readers mengetahui hal ini! Apa kau bisa mengembalikan reputasiku, hah! Naruto!”

“Ampun, Shino. Aku terpaksa melakukannya.Aku terpaksa, aku tidak tahu kalau sampai segitu efeknya padamu” pinta Naruto dengan cepat menjauh dari Shino.
“Terlambat, Naruto!” kata Shino tak bergeming seraya mencengkram kerah baju Naruto yang kelonggaran.

“Somebody, HELP MEEEEEE!” pekik Naruto nangis gaje!

…………………………………….
 Bersambung ... ~~~

Jangan Lupa Like Share Follow Twitter Dan Menjadi Member di blog ini Untuk Mengetahui Posting terbaru dari Blog ini Dengan cara menekan tombol Join This site Oke ...
 

0 comments:

Post a Comment