Wednesday, July 17, 2013

Fanfict Low my imagination Chapter 3

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1g1KVGlnm3btaeYbIxNUsBn946yx2BM9NfVyW47RAIxVNZQS7EoUOMdQW8y6V5VNep0VLNI0qU-V2Ru6Lxk9MSCwyMm15-_LnMOmCbmZF0RNqu0Oec3iBNdsAS4L5WUnQ4aj6D1tJVv0S/s1600/Matahari+ku.jpg 
Judul : Matahariku
Chapter 3 : Matahariku
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Rate : T
Genre : hurt and romance.
Pairing : Naruhina

Ruangan VIP Matahari terlihat sepi, didalam ruangan takada siapa-siapa. Suara derit pintu di buka menandakan memperlihat keadaan Naruto yaaaaannnggg_____, oups! Sorry, Naru-chan. Kalo itu, author lepas tangan dari penyebab remuknya wajahmu.

Naruto merebahkan tubuhnya di sofa, dia merehatkan tubuhnya yang sedikit nyeri karena amukan Shino. Dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan hampa, di teringat kembali pada Hinata, gadis yang dia temui semalam. Sebuah senyuman terukir di wajah, bibirnya mengumam nama Hinata berkali-kali.

“Akhirnya kau mengerti, Hinata” gumam Naruto, “Sayangnya aku tak sempat melihat matamu” lanjut Naruto seraya memejamkan matanya, namun belum lama dia memejamkan matanya, kini matanya kembali terbelak. Dia mencium aroma tubuhnya, “Kuso, tubuhku bau obat-obatan! Sebaiknya aku mandi” lanjutnya seraya menuju kamar mandi.

“Kemana sih mereka, kenapa kamar ini sepi sekali?” tanya Naruto pada dirinya sendiri saat dia tak menemukan seorangpun di kamar ini.

Setelah mandi serasa segar, Naruto segera mengganti seragam rumah sakit dengan kaos oblong putih dan jeans hitam selutut, terakhir dia memakai jaket orangenya. Dia merapikan dirinya di depan cermin kecuali rambutnya yang memiliki khas acak-acakan, dia berjalan mendekati jendela dan menatap ke luar tepatnya ke arah lapangan rumah sakit.

Sebuah senyum terukir di wajahnya, sambil mengacak rambut pirangnya dia melangkah keluar. Dia berdiri cukup lama di depan pintu, kepalanya celingak celinguk kekiri dan ke kanan.

“Semoga Hinata tak melihatku keluar dari kamar ini, jika tidak dia akan berpkir yang enggak-enggak tentang aku” batin Naruto penuh harap.

Sepenjang perjalanannya tak henti-hentinya senyuman terukir di wajahnya, dengan santainya dia menyapa para perawat yang dia temui. Sementara itu seorang pemuda emo berjalan santai menujunya, pemuda itu tertawa pelan melihat penampilan Naruto yang berbeda.

“Ada yang aneh denganku, teme?” Tanya Naruto begitu Sasuke mendapatinya.
“Kau terlihat berbeda sekali hari ini, dobe. Apa kau berencana kencan dengan gadis semalam?” Tanya Sasuke memasang tampang curiga.

“Kemana yang lain? kenapa kamar VIP matahari kosong? Apa Sai sudah sembuh?” tanya Naruto seraya berjalan.

“Dia hanya demam, tak perlu dirawat berlama-lama di rumah sakit” jawab Sasuke mengikuti langkah Naruto. “Lalu kenapa kau yang malah menghilang dari semalam?”

“Eto, kamu tahukan. Aku tidak suka sesuatu yang berbaur rumah sakit” jawab Naruto, iris biru safirnya terlihat meredup.

“Kau tidak bisa seperti itu, kau seharusnya di_____”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Sasuke. Semuanya baik-baik saja selama ini” Naruto memotong kata-kata Sasuke, seolah ada kata sacral yang tidak ingin dia dengar dari mulut Sasuke.

“Kau mau kemana, Naruto?” tanya Sasuke begitu melihat Naruto berjalan meninggalkannya.

“Aku hanya ingin jalan-jalan, kebetulan aku belum sarapan. Kita ke kantin, yuk” ajak Naruto mengabaikan Sasuke.

“Anak payah!” dengus Sasuke kesal.

…………………………………………..

Sinar matahari siang menyengat kulit, di bawah jendela di atas kursui roda, Hinata duduk menatap lapangan rumah sakit berteman hembusan angin siang. Sakura membantu Hinata menyisir rambutnya, cukup banyak helaian rambut Hinata yang mulai rontok. Sementara Hinata bernyanyi pelan dengan riang seraya merajut syal merah tanpa tahu apa yang terjadi pada rambut indigonya. Sakura hanya diam tanpa mengatakan apa yang terjadi pada Hinata, dia takut Hinata akan depresi kembali.
“Bagaimana setelah ini kita jalan-jalan, Hinata?” tawar Sakura. Hinata berbalik dan tersenyum pada Sakura.

“Yokatta, aku juga ingin jalan-jalan. Siapa tahu aku bisa bertemu dengannya” jawab Hinata dengan tatapan berbinar-binar.

Sakura tertegun, dia terharu melihat Hinata yang tengah bahagia. Sementara dia mungkin telah tertutup karena pemuda itu, pemuda yang sempat membuat dia terpukau. Pemuda yang membuat dia selalu berharap.

“Ameen, Hinata” balas Sakura mengaminkan kata-kata Hinata, “Kau harus memperkenalkan dia padaku jika bertemu dengannya” lanjut Sakura membalas senyum Hinata sementara tangan menyembunyikan helaian rambut Hinata yang rontok di sakunya.

“Ayo, Sakura-chan” kata Hinata.

“Ayo, Hinata” kata Sakura seraya mendeorong Hinata menuju ruang aula.

………………………………………………..

Suasana ruang tunggu rumah sakit cukup ramai dengan berbagai jenis manusia dengan kesibukan mereka masing-masing, suasana gaduhpun tak bisa di hindari dari suasana seperti itu. Dari arah yang berbeda Naruto dan Hinata berjalan saling mendekati, namun saking banyaknya manusia di dalam ruang tunggu mengalihkan pendangan mereka hingga mereka saling melewati dengan sendirinya.

Langkah kaki Naruto tertahan, dia terdiam sejenak. “Sepertinya aku melihat Hinata?” batin Naruto saat melihat bayangan Hinata. “Teme, sebentar!” lanjut Naruto seraya berlari ke arah dia datang.

“WOI! Naruto, kau mau kemana?” Tanya Sasuke ikut berlari mengikuti Naruto. “Apa yang dia maksud gadis semalam itu?” batin Sasuke.

Sementara Naruto masih berlari mencari Hinata di dalam kerumunan manusia di dalam ruang tunggu, hingga dia melihat gadis bermabut pink yang dia lihat tadi pagi keluar dari aula menuju taman. Dia semakin yakin begitu melihat Hinata menorah ke arahnya.

…………………………………………………

Sementara itu, HInata.

Saat melewati kerumunan manusia di ruang tunggu Hinata sempat melihat seseorang yang mirip dengan Naruto, namun dia kurang yakin. Setelah cukup jauh mereka meninggalkan ruang tunggu, Hinata merasa seperti ada yang mengejarnya. Spontan dia menorah ke belakang, sebuah senyuman tergambar di wajahnya saat dia melihat pemuda yang dia temui semalam berdiri tak jauh darinya dengan napas yang tersengal-sengal.

“Hinata!” panggil pemuda itu, senyum Hinata makin melebar.

“Sakura-chan, sepertinya do’amu didengar Tuhan” bisik Hinata seraya melihat Sakura.

“Apa maksudmu, Hinata? Apa kau bertemu dengannya?” Tanya Sakura kurang yakin.

“Yah, dia sekarang berada di belakang mu” kata Hinata seraya menoreh ke belakang Sakura.

………………………………………………..

Sasuke berlari mengikuti kemana Naruto pergi, dia bersumpah akan mengchidori Naruto dengan kekuatan 1000 volt milik Pikachu jika tak mendapatkan penjelasan yang logis. Napasnya tersengal-sengal, dia memegang dadanya karena sesak.

Bhuuuuaaakkkkhhh!

Sebuah pukulan mendarat di wajah Naruto#STOP! Itu hanya ada dalam pikiran Sasuke#

“Sebaiknya kau punya alasan untuk ini, Naruto!” kata Sasuke seraya menopang tangannya di pundak Naruto sambil mengatur napasnya.

“Sa-Sasuke-kun”

Mata Sasuke terbelak mendengar namanya disebut oleh seorang gadis. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan tatapan matanya tertahan pada gadis berambut pink sebahu yang menatap tak percaya padanya.

“Sakura-chan” Sasuke menyebut nama gadis itu.

Mereka larut sejenak di dalam keheningan karena kekagetan mereka.

……………………………………………….

Naruto terbengong-bengong melihat reaksi berlebihan dari Sasuke, dia segera mencubit Sasuke agar tersadar dari keterkejutannya. Sementara Hinata kesem-sem melihat reaksi Sakura yang terkejut melihat pemuda emo didepannya.

“Hai, Hinata! Bagaimana kabarmu, pagi ini? Apa kau merasa baikan?” Tanya Naruto mencairkan suasana tegang yang diciptakan Sakura dan Sasuke.

“Na-Naruto-kun, aku-aku baik-baik saja” jawab Hinata terbata-bata karena malu di perhatikan oleh Naruto.

“Hahaha~~, syukurlah kalau begitu” kata Naruto seraya tertawa lepas, menambah rona merah di wajah Hinata.

“Oh, yah. Naruto-kun, perkenalkan. Ini Sakura, perawat yang menanganiku dan juga teman baikku” Hinata memperkenalkan Sakura yang masih dalam keadaan kaget pada Naruto.

“Hai, Sakura. Aku Naruto, salam kenal” balas Naruto sambil memamerkan senyum mentarinya. “Dan, Hinata. Dia adalah salah satu dari teman-temannku” kata Naruto sekalian memperkenalkan Sasuke pada Hinata.

“Hm, sepertinya kalian berdua sudah saling menegnal” kata Hinata memahami rekasi Sakura saat melihat Sasuke dan menyadarkan Sakura dari keterkejutannya.

Sakura memerbaiki raut wajahnya yang terlihat kaget dengan seulas senyuman miliknya, “Iya, Hinata. Kami sudah saling mengenal” balas Sakura ramah.

“Apa benar itu, teme?” Tanya Naruto.

“Hn” jawab Sasuke kembali memasang tampang stoycknya.

“Apa yang Naruto-kun lakukan di rumah sakit?” pertanyaan Hinata menyadarkan Naruto akan sesuatu. Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Hinata.

“Heh, dia _____”

“Eto, aku sedang menjenguk tamanku yang sedang di rawat disini” potong Naruto sebelum Sasuke melanjutkan kata-katanya.

“Apa yang kau bicarakan, dobe?! Siapa yang sakit?!” Sasuke tampak tak menyukai kebohongan yang dibuat Naruto.

“Sakura-san, bagaimana kalau aku saja yang membawa jalan-jalan Hinata?!” tawar Naruto mengabaikan pertanyaan Sasuke.

“Bagaimana Hinata?” Tanya Sakura pada Hinata.

“Tak apa, Sakura-chan” jawab Hinata senang, bagaimana tidak dia akan menghabiskan hari dengan orang yang harapkan datang menjenguknya.

“Tapi, Naruto____” kata-kata Sasuke kembali terputus karena Naruto tiba-tiba menyeretnya menjauh dari Hinata dan Sakura.

“Aku mohon, Sasuke. Kali ini biarkan aku melakukan apa yang aku mau, dan tolong jangan katakan apapun mengenai diriku pada mereka” pinta Naruto yang terkesan mengancam.

Sasuke menepiskan tangan Naruto dari bajunya. Giginya bergemelutuk geram menahan amarahnya, dengan sikap sesuka hatinya Naruto.

“Kau egois, Naruto” Sasuke akhirnya menyerah, dia mendorong pelan tubuh Naruto. “Terserah saja padamu” lanjutnya memperlihatkan deretan aura suram.

“Terima kasih, teme” balas Naruto sambil berlari mendekati HInata dan Sakura.
“Biar aku yang menemani Hinata” kata Naruto mengambil pegangan kursi roda dari tangan Sakura. “Ku titip Sasuke padamu, Sakura-san” Sakura terhenyak mendengar ucapan Naruto, pata-pata dia melihat kea rah Sasuke yang balas menatap horror padanya.

Kembali Sakura pundung di bawah kursi roda sambil bongkar-bongkar ubin.

“Jaa mata, Sasuke, Sakura-san” pamit Naruto seraya mendorong kursi roda Hinata menuju taman.


  Jangan Lupa Like Share Follow Twitter Dan Menjadi Member di blog ini Untuk Mengetahui Posting terbaru dari Blog ini Dengan cara menekan tombol Join This site Oke ...

0 comments:

Post a Comment