Wednesday, July 17, 2013

Fanfict Low my imagination Chapter 4

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1g1KVGlnm3btaeYbIxNUsBn946yx2BM9NfVyW47RAIxVNZQS7EoUOMdQW8y6V5VNep0VLNI0qU-V2Ru6Lxk9MSCwyMm15-_LnMOmCbmZF0RNqu0Oec3iBNdsAS4L5WUnQ4aj6D1tJVv0S/s1600/Matahari+ku.jpg 
Judul : Matahariku
Chapter 4 : Matahariku
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Rate : T
Genre : hurt and romance.
Pairing : Naruhina

Angin berhembus pelan menerpa wajah sepasang pemuda pemudi yang tengah berteduh di bawah pohon, Suasana romantic melatar belakangi mereka. wajah si gadis terlihat merona dan tersipu sementara si pemuda hanya cengar-cengir tanpa alasan.

“Na-Naruto-kun” panggil si gadis agak canggung.

“Iya, ada apa, Hinata-chan?” balas si pemuda tanpa melepas senyum di wajahnya.

“Arigatou,karena telah menahanku untuk tidak bunuh diri” lanjut Hinata.

Sambil tersenyum Naruto memegang tangan Hinata, “Kau tak perlu berterimakasih padaku, kita telah ditakdirkan untuk bertemu malam itu”

“Apa yang Naruto-kun lakukan semalam di atap?” Tanya Hlnata.

“Aku hanya ingin mencari suasana berbeda” jawab Naruto tanpa ragu Hinata tak akan percaya padanya.

“Aku pikir Naruto-kun, mau bunuh diri juga” lanjut Hinata takut-takut.

“Hahaha____, kau ada-ada saja” jawab Naruto dengan santainya.

“Yang semalam itu adalah nii-sanmu?” Tanya Naruto mengalihkan pembicaraan mereka.

“Hu um, dia satu-satunya keluarga yang aku punya di dunia ini. Ayah, ibu beserta adik perempuanku meniggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu____, aku,___” kata-kata Hinata tertahan, dia tak sanggup bercerita tentang keluarganya, lubang di hatinya seakan terbuka kembali.

“Pasti itu sangat berat bagimu” ucap Naruto yang memahami perasaan Hinata.

“Aku mulai hilang arah, apalagi saat Neji nii-san sibuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup kami” Hinata berhenti sejenak, dia menghela napas panjang.

Naruto terdiam mendengar curahan hati HInata. Kemudian dia memegang tangan Hinata dan memberikan senyumnya yang terindah.

“Tapi sekarang ada aku bersamamu, Hinata. Aku tak akan meninggalkan mu sendirian, aku janji” entah dia sadar atau tidak telah membuat janji yang mustahil dia lakukan, tapi bukan Naruto namanya jika dia membiarkan Hinata larut dalam kesedihan.
‪#‎Itumah, hanya dalam imajinasi si author!#

“Gomen nasai, Naruto-kun. Aku selalu membuatmu repot” sela Hinata malu, dia dapat merasakan wajahnya mulai memerah.

“Hehehe, kau tak merepotkanku. Kau sendiri yang terus berusaha bertahan. Aku suka orang yang seperti dirimu” balas Naruto dengan cengiran khasnya.

Blush. Wajah pucat Hinata makin memerah total di puji oleh Naruto.

“He eh? Kau kenapa Hinata-chan? Apa penyakitmu kambuh?” Naruto jadi kalangkabut melihat wajah Hinata sudah seperti tomat.

“Eto, aku, hanya merasa kepanasan” jawab Hinata pelan, dia menundukan wajahnya menyembunyikan rona merahnya dari Naruto. “Sepertinya Naruto tidak peka” batin Hinata lemas.

“Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya, kita kembali ke kamarmu saja” kata Naruto seraya berdiri dan mendorong kursi roda Hinata.

Hinata hanya pasrah saja, padahal dia masih ingin bercerita banyak dengan Naruto. Tapi dia pun tak bisa menolaknya, dia hanya menunduk membirakan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang cemberut.
‪#‎Dasar! Naruto no BAKA! Gak peka banget sih jadi orang!

Sepanjang perjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan Hinata mereka saling berdiam diri. Hinata sepertinya lagi ngambek, Cuma Narutonya gak peka. Akhirnya sebuah lampu Philips tornado 18 watt menyala di atas kepala Hinata.

“Na-Naruto-kun, bagaimana kalau kita menjenguk teman Naruto-kun bersama-sama?” tawar Hinata tertawa licik di balik helaian rambutnya.

“Temanku tak ada yang sakit” tanpa sadar Naruto membuka kebohongannya.

“Tadi Naruto-kun bilang ingin menjenguk teman yang sakit” sela Hinata tak menyadari kebohongan yang dibuat Naruto.

Tangan Naruto tiba-tiba berhenti mendorong kursi Hinata, langkahnya pun ikut berhenti. “Apa aku tidak salah dengar? Apa yang aku dengar Hinata ingin menjenguk temanku?___ Temanku? Temanku?” otak Naruto masih mengolah informasi yang diaterima.

“Bukannya pagi tadi Sai sudah pulang!” setelah seratus tahun berpikir dan Hinata mengering di kursi rodanya Naruto baru menyadari kesalahannya!

“Eto,maksudku. Temanku memang ada yang sakit, dia sudah pulang” jawab Naruto cengengesan..

“Benarkah?” Hinata tampak ragu-ragu.

“Iya,” Naruto mencoba meyakinkan Hinata.

“Kapan-kapan akan kubawa Hinata pada ke teman-temanku”

Yah, sudah. Hinata percaya aja kebohongan Naruto, dia bahkan tidak tahu saat ini dia sedang melewati ruang VIP Matahari.

“Naruto-kun, apa kita akan bertemu lagi?” tanya Hinata kemudian membuat Naruto mengehntikan jalannya.

“Tentu saja, aku akan datang menjenguk mu setiap hari di sini” jawab Naruto seraya memegang pundak Hinata mencoba meyakinkannya bahwa dia tak pernah meninggalkannya.

Hinata hanya tersenyum berat men dengar jawaban Naruto. “Aku pun berharap begitu”.

“Hinata, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku ingin membuat mu tersenyum bahagia selagi bisa membuatnya” inner Naruto seraya mendorong kursi Hinata menuju ruangan dia dirawat.

…………………………………………

Hari kini berganti malam, kemudian berganti pagi lagi. Terus seperti itu setiap harinya. Semenjak hari itu, Naruto tak pernah datang menjenguknya seperti apa yang dia janjikan pada HInata. Sudah empat hari ini Naruto tak pernah menunjukan batang hidungnya, mendengar kabarnya pun tidak apalagi melihatnya.

Apa Naruto telah melupakan janjinya? Apa dia merasa terbebani dengan penakit Hinata? Apa dia merasa jenuh?

Kenapa? Kenapa Naruto bisa seperti itu?

Hinata menatap sedih lapangan rumah sakit yang sepi, sinar matahari menyinari hampir seluruh lapangan. Angin yang bertiup menerbangkan dedaunan dan helaian surai indigonya, memperlihatkan seraut wajah sendu miliknya.

“Apa Naruto telah melupakan janjinya?” tanya Hinata pada helaian dedaunan yang berterbangan di depannya.

Hanya kesunyian dan dsiran suara angin yang menjawab pertanyaan Hinata dengan jawaban abstrak.

“Naruto, kenapa aku merasa kesepian saat kau tak ada? Seperti ada lubang di hatiku yang terbuka bersar saat kau tak ada, saat hariku tak di isi dengan tawamu. Naruto, aku merindukan tawamu. Aku merindukan saat-saat kau bercerita, sungguh menyenangkan”

Sunyi, hanya itu yang Hinata dapat dari curahan hatinya. Tanpa ada yang menjawab atau menanggapi curahan hatinya.

“Naruto, kau bagai matahari yang menyinari hari dan memberikan energi kehidupan pada semua mahluk di bumi. Kau adalah Matahari bagiku, karena kau telah menyinari hari-hariku yang gelap dan sunyi, kau telah menyalurkan energi kehidupan padaku melalui tawamu. Dan saat kau tak ada aku merasa tak berdaya”

Lagi, kali ini entah pada siapa dia bercerita. Yang pastinya dia mencoba bercerita pada siapa saja dan apa saja yang ada di dekatnya, dengan begitu dia berharap ada yang mendegarnya dan memberitahukan apa yang dia rasakan saat ini pada Naruto.

Naruto tak tahukah betapa Hinata sangat cemas menunggumu berdiri di depan pintu kamarnya? Kemana kau selama ini, apa benar kau telah mengingkari janjimu?

…………………………………….

Dari balik pintu kamar Hinata di rawat, Sakura berdiri terpaku mendengar curahan hati Hinata. Sakura menatap sedih pada kotak obat yang ada di tangannya, saat ini perasaannya bercampur antara marah, sedih dan sesal.

Dia marah karena Naruto tega membuat Hinata berharap seperti ini, dia sedih karena di sisa-sisa hari yang tinggal menunggu waktu Hinata merasa merindukan seseorang yang belum pasti menepati janjinya, dia menyesal karena di saat terakhirnya dia tak bisa merasakan yang namanya cinta.

“Apa yang bisa aku lakukan sebagai temannya?” batin Sakura.
………………………………………

Hari ini pun berlalu seperti hari-hari sebelumnya, dimana hari ini berlalu dengan penantian yang sama. Menanti seseoran yang belum tentu datang, menanti seseorang yang telah berjanji padanya. Hari ini genap sudah lima hari orang yang dia tunggu-tunggu tidak datang, mungkin dia benar-benar telah melupakan janjinya.

Mungkin hari ini adalah hari terakhir dia berharap orang yang dia harapkan datang, mungkin hari ini adalah bukti dari janji palsunya. Jadi, apa besok dia akan tetap menunggu orang itu? Tergantung!

Hinata melangkah pelan menuju ranjangnya dan memberingkan tubuhnya, matanya memerah dan membengkak. Sepertinya dia habis menangis, tapi kenapa dia menangis? Apa dia merasa menyesal karena terlalu percaya pada orang itu?

Sejak awal dia masuk rumah sakit tak ada seorang pun yang datang menjenguknya, tidak ada. Hanya Sakura seorang yang selalu datang menemaninya dan itu pun kalau dia tengah tugas, jika tidak Hinata akan menghabiskan harinya di dalam kesepian.

Namun semuanya berubah saat dia bertemu dengan orang itu, pemuda bersurai pirang dengan tiga goresan kembar di kedua pipinya. Pemuda itu datang seolah membawa separoh sinar matahari dan menyinari serta memberikan kehangatan di harinya yang sepi dan kelam.

Namun sepertinya, Hinata harus kembali menghentikan impian dan harapannya. Terlalu cepat dia percaya pada pemuda itu, seharusnya dia tidak percaya begitupada pemuda yang baru dia temui. Karena bisa jadi dia hanya berpura-pura baik di awalnya, atau bisa jadi dia hanya mencoba menhibur dan setelah itu dia tak peduli.

Ah, sakit jika memikirkannya. Sakit jika terus membayangkannya, dan akan semakin sakit jika itu benar terjadi. Kini, mataharinya mulai meredup.

Mataharinya akan benar-benar tenggelam dan menyisahkan kegelapan.
Bhuk! Bhuk! Bhuk!

Hinata tersentak kaget dari pikirannya, dia segera bergerak bangun dari ranjnganya saat dia mendengar suara jendelanya di ketuk.

“Hinata!”

Hinata memandang takut pada sosok bayangan hitam di luar jendela kamarnya.

Bhuk! Bhuk! Bhuk!

“Hinata!” lagi suara itu terdengar pelan memanggil namanya, seperti tengah bersembunyi dari sesuatu.

Hinata masih duduk di ranjangnya sambil meramas selimutnya. Siapa yang malam-malam begini mengetuk jendela kamarnya?


  Jangan Lupa Like Share Follow Twitter Dan Menjadi Member di blog ini Untuk Mengetahui Posting terbaru dari Blog ini Dengan cara menekan tombol Join This site Oke ...

0 comments:

Post a Comment